Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 2

A Leaf Decomposing In The Ground (Wabi-sabi page 12 – 13)

What Is The Relationship Between Wabi-Sabi and Tea Ceremony?

Master teh wabi-sabi yang pertama bernama Murata Shuko (1423 – 1502) yakni seorang Biksu Zen dari Nara. Sekitar masa ini dalam masyarakat sekuler, teh telah menjadi hobi elit yang memanjakan diri, tidak sedikit, karena prestise yang terkait dengan kepemilikan benda-benda yang berhubungan dengan teh buatan asing yang elegan. Shuko, yang menentang mode ini, menggunakan cara yang sengaja dikecilkan , peralatan yang diproduksi secara lokal bila memungkinkan. Inilah awal estetika wabi sabi dalam teh.

Sekitar seratus tahun setelah inovasi Shuko, wabi-sabi dibawa ke pendewaannya oleh Sen no Rikyu (1522-1591). Putra seorang pedagang, Rikyu mengembangkan minat pada teh pada usia tujuh belas tahun. Layanan pertama yang dicatat Rikyu sebagai master teh adalah kepada penguasa militer yang kuat Oda Nobunaga. Setelah pembunuhan Nobunaga pada 1582, Rikyu memasuki layanan penggantinya, Toyotomi Hideyoshi yang brilian dan eksentrik.

Rikyu, bersama dengan sembilan ahli teh lainnya, membantu Hideyoshi dengan mengadakan dan menilai benda-benda yang berhubungan dengan teh dan dengan menafsirkan protokol rumit dari peralatan teh dan teh yang digunakan dalam situasi formal.

Meskipun akhir abad ke-16 adalah periode peperangan yang hampir terus-menerus, itu juga merupakan masa kreativitas dan penemuan besar dalam seni. Dalam teh ada banyak eksperimen dengan benda, ruang arsitektur, dan ritual itu sendiri. Di tengah-tengah gejolak budaya inilah Rikyu mendapatkan kemenangan estetisnya. Rikyu juga menciptakan ruang teh jenis baru berdasarkan prototipe gubuk petani berupa dinding lumpur kasar, atap jerami, dan elemen struktural kayu yang terkena cacat. Rikyu kemudian mengompres ruangan ini menjadi dua tikar tatami yang menakjubkan, hanya tiga puluh sembilan kaki persegi.

Sayangnya, perubahan Rikyu ke arah nilai-nilai sederhana, sederhana, dan alami tidak dihargai dengan baik oleh majikannya. Hideyoshi, seorang lelaki yang berasal dari petani, curiga dengan selera Rikyu akan apa yang juga bisa disebut jelek dan tidak jelas.

Tantangan estetika Rikyu menciptakan keretakan dalam hubungan mereka yakni kecemburuan Hideyoshi atas pengakuan Rikyu yang semakin meningkat, kecerobohan politik Rikyu dan pencatutan alat-alat teh, akhirnya mendorong Hideyoshi untuk menyuruh Rikyu bunuh diri pada usia tujuh puluh tahun.

What Are Wabi Sabi Moral Precepts?

Beauty can be coaxed out of ugliness.

Keindahan bisa dibujuk keluar dari keburukan.

Keindahan wabi-sabi essensialnya dalam kondisi untuk menerima apa yang kita anggap buruk.

Wabi-sabi mengajarkan kita untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak terlalu penting misalnya kemewahan . Wabi-sabi mendorong kita untuk menghargai apa pun yang kita miliki dan temui. Wabi-sabi melatih kita untuk hidup tanpa terbebani yaitu dengan hidup sederhana. Dan yang paling essensial dari nilai moral wabi-sabi yakni mendidik kita untuk menerima setiap kekurangan, kecacatan, kerusakan, dan ketidaksempurnaan diri kita. Karena menerima dengan ikhlas dan lapang dada setiap kekurangan itu maka akan muncul keindahan dari ketidaksempurnaan itu.

Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 1

Wabi Sabi by Leonard Koren

What Is Wabi Sabi?

Wabi -sabi is the quintessensial Japanese aesthetic. Wabi Sabi is a beauty of things imperfect, impermanent, and incomplete. It is a beauty of things modest & humble. It is a beauty of things unconventional.

Wabi-sabi adalah estetika Jepang klasik. Wabi-sabi adalah keindahan dari hal-hal yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak lengkap. Ini adalah keindahan dari hal-hal sederhana & rendah hati. Ini adalah keindahan yang tidak biasa.

Bagi Koren, wabi-sabi adalah paradigma estetika berbasis alam yang mengembalikan ukuran kewarasan dan proporsi pada seni kehidupan. Wabi-sabi menyelesaikan dilema artistik Koren tentang cara membuat hal – hal indah tanpa terjebak dalam materi yang membuat putus asa yang biasanya mengelilingi tindakan kreatif.

Konsep wabi-sabi yang cenderung misterius dan sulit untuk dipahami tepat jika diterapkan para seniman, desainer, penyair, dan filsuf. Karena wabi-sabi akan menumbuhkan apresiasi terhadap detail kecil kehidupan sehari-hari dan wawasan tentang keindahan aspek-aspek alam yang tidak mencolok dan diabaikan. Sehingga, kesederhanaan yang tidak termiliki mengambil makna baru sebagai dasar untuk keindahan baru yang murni.

Konsep wabi-sabi yang cenderung sulit dipahami dan dijelaskan secara intelektual itu pun terbukti dengan sebuah fakta. Fakta yang dimaksud yakni ketika kita bertanya kepada orang Jepang “apa itu wabi-sabi” mereka akan menggelengkan kepala dan mengucapkan maaf karena sulit untuk menjelaskan. Walaupun hampir setiap orang Jepang mengklaim bahwa konsep wabi-sabi telah mereka terapkan namun mereka tidak bisa menjelaskannya secara intelektual. Hal ini dikarenakan tidak ada buku maupun guru yang mengajarkan wabi-sabi secara rasional.

Hal ini berkaitan dengan ajaran Buddhisme Zen dimana wabi-sabi dijuluki sebagai “Zen of Things”, karena ia mencontohkan banyak inti filosofi spiritual Zen ,salah satunya adalah anti-rasionalisme. Pengetahuan esensial dalam doktrin Zen hanya dapat ditransmisikan melalui pikiran ke pikiran bukan dari tulisan maupun lisan. Hal ini bertujuan untuk menghindari salah tafsir konsep.

Greatness exists in the inconspicuous and overlooked details.

Kebesaran ada dalam detail yang tidak mencolok dan terabaikan.

Kutipan di atas menginterpretasikan bahwa wabi-sabi mewakili kebalikan yang tepat dari cita-cita Barat akan keindahan besar sebagai sesuatu yang monumental, spektakuler, dan abadi. Wabi-sabi tidak ditemukan di alam pada saat-saat mekar dan subur, tetapi pada saat-saat awal dan surut. Wabi-sabi bukan tentang bunga-bunga indah, pohon-pohon megah, atau pemandangan fantastis. Wabi-sabi adalah tentang mengungkap keindahan sesuatu minor, tersembunyi, dan fana.

Konsep wabi-sabi sering dikaitkan dengan upacara minum teh di Jepang. Lalu bagaimana bisa wabi-sabi dan upacara minum teh di Jepang ini saling terhubung? Kita akan bahas pada artikel selanjutnya yakni Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 2.

Design a site like this with WordPress.com
Get started