Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 2

What Is The Relationship Between Wabi-Sabi and Tea Ceremony?
Master teh wabi-sabi yang pertama bernama Murata Shuko (1423 – 1502) yakni seorang Biksu Zen dari Nara. Sekitar masa ini dalam masyarakat sekuler, teh telah menjadi hobi elit yang memanjakan diri, tidak sedikit, karena prestise yang terkait dengan kepemilikan benda-benda yang berhubungan dengan teh buatan asing yang elegan. Shuko, yang menentang mode ini, menggunakan cara yang sengaja dikecilkan , peralatan yang diproduksi secara lokal bila memungkinkan. Inilah awal estetika wabi sabi dalam teh.
Sekitar seratus tahun setelah inovasi Shuko, wabi-sabi dibawa ke pendewaannya oleh Sen no Rikyu (1522-1591). Putra seorang pedagang, Rikyu mengembangkan minat pada teh pada usia tujuh belas tahun. Layanan pertama yang dicatat Rikyu sebagai master teh adalah kepada penguasa militer yang kuat Oda Nobunaga. Setelah pembunuhan Nobunaga pada 1582, Rikyu memasuki layanan penggantinya, Toyotomi Hideyoshi yang brilian dan eksentrik.
Rikyu, bersama dengan sembilan ahli teh lainnya, membantu Hideyoshi dengan mengadakan dan menilai benda-benda yang berhubungan dengan teh dan dengan menafsirkan protokol rumit dari peralatan teh dan teh yang digunakan dalam situasi formal.
Meskipun akhir abad ke-16 adalah periode peperangan yang hampir terus-menerus, itu juga merupakan masa kreativitas dan penemuan besar dalam seni. Dalam teh ada banyak eksperimen dengan benda, ruang arsitektur, dan ritual itu sendiri. Di tengah-tengah gejolak budaya inilah Rikyu mendapatkan kemenangan estetisnya. Rikyu juga menciptakan ruang teh jenis baru berdasarkan prototipe gubuk petani berupa dinding lumpur kasar, atap jerami, dan elemen struktural kayu yang terkena cacat. Rikyu kemudian mengompres ruangan ini menjadi dua tikar tatami yang menakjubkan, hanya tiga puluh sembilan kaki persegi.
Sayangnya, perubahan Rikyu ke arah nilai-nilai sederhana, sederhana, dan alami tidak dihargai dengan baik oleh majikannya. Hideyoshi, seorang lelaki yang berasal dari petani, curiga dengan selera Rikyu akan apa yang juga bisa disebut jelek dan tidak jelas.
Tantangan estetika Rikyu menciptakan keretakan dalam hubungan mereka yakni kecemburuan Hideyoshi atas pengakuan Rikyu yang semakin meningkat, kecerobohan politik Rikyu dan pencatutan alat-alat teh, akhirnya mendorong Hideyoshi untuk menyuruh Rikyu bunuh diri pada usia tujuh puluh tahun.
What Are Wabi Sabi Moral Precepts?
Beauty can be coaxed out of ugliness.
Keindahan bisa dibujuk keluar dari keburukan.
Keindahan wabi-sabi essensialnya dalam kondisi untuk menerima apa yang kita anggap buruk.
Wabi-sabi mengajarkan kita untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak terlalu penting misalnya kemewahan . Wabi-sabi mendorong kita untuk menghargai apa pun yang kita miliki dan temui. Wabi-sabi melatih kita untuk hidup tanpa terbebani yaitu dengan hidup sederhana. Dan yang paling essensial dari nilai moral wabi-sabi yakni mendidik kita untuk menerima setiap kekurangan, kecacatan, kerusakan, dan ketidaksempurnaan diri kita. Karena menerima dengan ikhlas dan lapang dada setiap kekurangan itu maka akan muncul keindahan dari ketidaksempurnaan itu.
Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 1

What Is Wabi Sabi?
Wabi -sabi is the quintessensial Japanese aesthetic. Wabi Sabi is a beauty of things imperfect, impermanent, and incomplete. It is a beauty of things modest & humble. It is a beauty of things unconventional.
Wabi-sabi adalah estetika Jepang klasik. Wabi-sabi adalah keindahan dari hal-hal yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak lengkap. Ini adalah keindahan dari hal-hal sederhana & rendah hati. Ini adalah keindahan yang tidak biasa.
Bagi Koren, wabi-sabi adalah paradigma estetika berbasis alam yang mengembalikan ukuran kewarasan dan proporsi pada seni kehidupan. Wabi-sabi menyelesaikan dilema artistik Koren tentang cara membuat hal – hal indah tanpa terjebak dalam materi yang membuat putus asa yang biasanya mengelilingi tindakan kreatif.
Konsep wabi-sabi yang cenderung misterius dan sulit untuk dipahami tepat jika diterapkan para seniman, desainer, penyair, dan filsuf. Karena wabi-sabi akan menumbuhkan apresiasi terhadap detail kecil kehidupan sehari-hari dan wawasan tentang keindahan aspek-aspek alam yang tidak mencolok dan diabaikan. Sehingga, kesederhanaan yang tidak termiliki mengambil makna baru sebagai dasar untuk keindahan baru yang murni.
Konsep wabi-sabi yang cenderung sulit dipahami dan dijelaskan secara intelektual itu pun terbukti dengan sebuah fakta. Fakta yang dimaksud yakni ketika kita bertanya kepada orang Jepang “apa itu wabi-sabi” mereka akan menggelengkan kepala dan mengucapkan maaf karena sulit untuk menjelaskan. Walaupun hampir setiap orang Jepang mengklaim bahwa konsep wabi-sabi telah mereka terapkan namun mereka tidak bisa menjelaskannya secara intelektual. Hal ini dikarenakan tidak ada buku maupun guru yang mengajarkan wabi-sabi secara rasional.
Hal ini berkaitan dengan ajaran Buddhisme Zen dimana wabi-sabi dijuluki sebagai “Zen of Things”, karena ia mencontohkan banyak inti filosofi spiritual Zen ,salah satunya adalah anti-rasionalisme. Pengetahuan esensial dalam doktrin Zen hanya dapat ditransmisikan melalui pikiran ke pikiran bukan dari tulisan maupun lisan. Hal ini bertujuan untuk menghindari salah tafsir konsep.
Greatness exists in the inconspicuous and overlooked details.
Kebesaran ada dalam detail yang tidak mencolok dan terabaikan.
Kutipan di atas menginterpretasikan bahwa wabi-sabi mewakili kebalikan yang tepat dari cita-cita Barat akan keindahan besar sebagai sesuatu yang monumental, spektakuler, dan abadi. Wabi-sabi tidak ditemukan di alam pada saat-saat mekar dan subur, tetapi pada saat-saat awal dan surut. Wabi-sabi bukan tentang bunga-bunga indah, pohon-pohon megah, atau pemandangan fantastis. Wabi-sabi adalah tentang mengungkap keindahan sesuatu minor, tersembunyi, dan fana.
Konsep wabi-sabi sering dikaitkan dengan upacara minum teh di Jepang. Lalu bagaimana bisa wabi-sabi dan upacara minum teh di Jepang ini saling terhubung? Kita akan bahas pada artikel selanjutnya yakni Resume “Wabi Sabi: For Artists, Designers, Poets, & Philosophers” by Leonard Koren Part 2.
Napoleon Museum Sebagai Tipologi Perancangan Museum RA Kartini

Napoleon Museum terletak di Istana Pangeran Monaco. Pendirian museum ini dilatarbelakangi oleh HSH Prince Louis II yang mengagumi sejarah Kerajaan Perancis dan perjalanan karir Napoleon Bonaparte. Selama pemerintahannya, Ia mengumpulkan koleksi benda-benda peninggalan bersejarah, memelihara dan membagi informasi tentang koleksi-koleksi tersebut, hingga akhirnya mendirikan Napoleon Museum. Sebagian besar koleksi dikumpulkan oleh Prince Louis II tetapi koleksi-koleksi tersebut juga diperbanyak oleh cucunya sekaligus penggantinya yakni Prince Rainier III yang memindahkan museum ke sayap selatan Istana Pangeran pada tahun 1970. Ada lebih dari seribu potongan dokumen yang berkaitan dengan Kekaisaran Pertama yakni kehidupan, peperangan, dan pengasingan. Koleksi-koleksi tersebut terdiri dari berbagai benda yang dimiliki Kaisar Napoleon I yakni pakaian dari anaknya Napoleon II yang merupakan Raja Romawi dan gambar keramat pengasingannya di St Helena.
Kemudian timbullah benda-benda yang menjadi ciri khas Napoleon atau bisa disebut dengan istilah Napoleonic yaitu topi kulit berwarna merah dari Kaisar Morengo, jam tangan yang dia gunakan selama kampanye Rusia, tanda tangannya di bagian bawah surat, dan lain sebagainya. Selain itu ada juga Napoleonic War yang berkaitan dengan benda-benda yang digunakan Napoleon saat berperang yakni bola meriam pada saat perang Austerlitz, berbagai senjata termasuk pedang dari Marshal Pierre Augereau dan bendera battalion dari pulau Elba.
Selain koleksi Napoleonic, di museum ini juga terdapat benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan Negara Monaco. Di loteng tengah yang sangat indah terpajang Piagam Deklarasi Kemerdekaan Monaco yang diberikan atas persetujuan Raja Perancis Louis XII, surat yang ditulis oleh Raja Perancis terpopuler yakni Louis XIV kepada HSH Prince Antoine I Monaco, mata uang logam bersejarah, berbagai perangko, dan berbagai seragam tentaranya Pangeran Monaco dari abad ke abad.
Pada Museum RA Kartini terdapat peninggalan kursi Kartini yang tidak terdisplay dengan baik, kemudian saya terinspirasi membuat stand-stand untuk yang berisi kursi-kursi yang didesain interior tiap standnya sesuai jaman kursi itu dipakai oleh Kartini. Sebagai acuannya adalah corner ruang tamu yang terdiri dari kursi tamu Napoleon Bonaparte pada Napoleon Museum Monaco di bawah ini. Pada corner ini kursi didisplay sebagai cerminan ambient ketika kursi itu dipakai Napoleon pada masa pemerintahannya. Sehingga pengunjung bisa merasakan dan membayangkan suasana ruang tamu Napoleon yang sebenarnya.

Untuk display pakaian peninggalan Kartini saya terinspirasi untuk mendisplaynya dengan dibingkai dengan kaca dan digantung sehingga dalam posisi berdiri agar pengunjung lebih leluasa melihat dan mengamati benda tersebut. Karena di Museum RA Kartini, pakaian Kartini didisplay dalam posisi tidur sehingga membuat pengunjung kesulitan melihat secara keseluruhan sisi pakaian tersebut. Selain itu, saya juga terinspirasi tata kondisional dari French War Museum. Pada museum tersebut terlihat jendela kacanya lebar-lebar sehingga cahaya matahari yang masuk lebih banyak. Dan ini bagus untuk pencahayaan di siang hari sehingga menghemat listrik. Keberadaan jendela kaca yang lebar-lebar tersebut juga membuat udara mudah masuk dan mendukung penghawaan alami yang baik.

Benda-benda koleksi peninggalan Kartini lainnya seperti tempat makan, dan gerabah-gerabah didisplay seadanya di etalase kayu yang diletakkan di pinggir dinding. Pengunjung tidak dapat melihat dan mengamati koleksi-koleksi tersebut dengan maksimal. Sehingga saya terinspirasi untuk mendisplay benda-benda tersebut seperti pada Napoleon Museum di bawah ini. Benda-benda koleksi dimasukkan dalam frame kaca dan diletakkan di tengah ruangan sehingga bias dilihat dari berbagai sisi. Selain itu, jika ruangan sempit bisa juga membuat rak pada dinding untuk agar tidak mengganggu sirkulasi pengunjung.

Patung RA Kartini ditempatkan di luar gedung sehingga sering terkena panas dan hujan membuatnya mulai rusak. Oleh sebab itu, saya terinspirasi menempatkan patung RA Kartini di dalam ruangan saja dengan display seperti pada gambar di bawah ini. Sehingga patung bisa dinikmati pengunjung namun aman dari cuaca maupun sentuhan pengunjung.

Sumber :http://madmonaco.blogspot.co.id/
Analisis Desain Mebel Karya Sori Yanagi

Profil Sori Yanagi
Sori Yanagi yang lahir pada tahun 1915 di Tokyo menggabungkan desain industrial barat dengan tradisi asli Jepang artisanal serta berkiblat pada gaya modern. Rancangannya melambangkan simbolis, sederhana dan kuat. Karya desain furniture Sori Yanagi yang terkenal ialah Butterfly Stool dan Elephant Stool. Ayah dari Soetsu Yangi ini adalah salah seorang tokoh pergerakan folk art pada awal abad ke-20 di Jepang. Selama lima tahun sejak 1936 ia mempelajari teknik melukis cat minyak di Tokyo School of Fine Arts. Salah satu persona yang memberi pengaruh kepada Sori Yanagi adalah Charlotte Peniand. Peniand adalah seorang desainer asal Perancis yang diundang pemerintah Jepang menjadi penasehat bagi perusahaan-perusahaan Jepang dalam mengembangkan desain produk untuk industri.
Yanagi yang sempat bekerja sebagai arsitek di studio arsitek Junko Sakakura, kemudian meninggalkan dunia arsitektur untuk lebih mendalami desain produk industri. Tahun 1952 Sori Yanagi berhasil membuka studionya sendiri di Tokyo. Studio itu bernama Yanagi Industrial Desain Institute. Pada tahun itu juga Yanagi berhasil memenangkan juara pertama dalam kompetisi desain industri Mainichi. Yanagi berhasil merancang desain yang pada saat itu masih tergolong terobosan baru, sebuah kombinasi antara radio dengan tape. Penghargaan yang diperoleh Yanagi tidak berhenti sampai di situ. Yanagi berhasil meraih medali emas dari Triennale of Milan tahun 1957. Tahun 1981 Yanagi menerima penghargaan dari Pemerintah Jepang atas kontribusinya pada kebudayaan Jepang.
Pencapaian sukses Sori Yanagi lainnya adalah saat ia dipercaya untuk merancang obor olimpiade musim panas tahun 1964 di Tokyo dan olimpiade musim dingin tahun 1972 di Sapporo. Sori Yanagi juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Asosiasi Desainer Industri Jepang pada tahun 1952. Setahun kemudian Sori Yanagi bergabung dalam Komite Desain Jepang. Sori Yanagi juga tak segan-segan untuk menyebarkan ilmunya di Women’s Art College di Tokyo antara tahun 1953 dan 1954. Dan kemudian ia juga menyebarkan ilmu di jurusan desain industri Kanazawa University of Arts & Crafts sejak tahun 1954. Yanagi juga dikenal sebagai penulis masalah desain. Tulisannya diterbitkan dalam bahasa Jepang maupun Inggris. Tahun 1977 Sori Yanagi dipercaya untuk menjabat sebagai Direktur untuk Japan Folk Crafts Museum di Tokyo.
Butterfly Stool

Tahun-tahun sesudah perang di Jepang ditandai dengan upaya rekonstruksi. Jepang berada di bawah komando tertinggi Sekutu, Institut Seni Industrial diperintahkan untuk mengembangkan furnitur dan peralatan listrik untuk rumah bagi pasukan pendudukan dan untuk menghasilkan produk-produk tersebut di seluruh negeri secepat mungkin. Skema ini berlangsung sampai 1947, dan Amerika pun memimpin Jepang untuk mengadopsi teknologi Barat. Amerikanisme meresap kehidupan Jepang sehari-hari dan pengaruh gaya Barat tetap tak berkurang bahkan sampai hari ini. Pada tahun 1950, ketika pecah Perang Korea, Jepang mendapat banyak keuntungan sebagai negara tetangga dan mengalami kenaikan ekonomi yang luar biasa. Kenaikan ekonomi ini dipicu lebih lanjut ketika pendudukan Jepang berakhir pada tahun 1951.
Kemerdekaan yang diperbaharui menyebabkan berdirinya berbagai perusahaan, universitas, dan perusahaan budaya. Pada tahun 1952 Sori Yanagi merupakan salah satu pendiri Asosiasi Industri Desain (JIDA) dan Komite Desain Jepang, yang telah menetapkan sendiri tugas membina pengaruh desainer dalam hierarki perusahaan. Pada tahun yang sama, Yanagi membuka studio desain sendiri dan memenangkan hadiah pertama untuk putar dalam kompetisi desain Jepang pertama. Butterfly stool memiliki konsep bentuk yang tidak terduga oleh orang Barat. Ini semua lebih mencengangkan karena Yanagi menghabiskan banyak waktu dengan Charlotte Perriand pada tahun 40-an. Suatu hari Yanagi pergi ke Jepang atas undangan dari Sekretaris Dagang dan Industri Jepang untuk memberikan desain orientasi baru. Yanagi pada waktu itu merupakan seorang mahasiswa Perancis yang ditemani Charlotte Perriand pada perjalanannya ke Jepang, sehingga menjadi berkenalan dengan Modernitas klasik Eropa. Ini memberikan inspirasi kepada Yanagi yang tidak ada dalam budaya Jepang. Bahkan saat ini banyak rumah tangga di perkotaan cukup puas tanpa tempat duduk furnitur apapun, satu duduk di tikar tatami di lantai. Yanagi menggunakan teknik lapis molding dibuat terkenal oleh Eameses untuk memproduksi massal bangku di Tendo Mokko Perusahaan. Bangku ini memiliki konstruksi yang luar biasa cerdas yakni dua bentuk yang sama dilekatkan bersama-sama secara simetris di sekitar sumbu menggunakan dua sekrup di bawah kursi dan batang kuningan berulir. Ini menghasilkan bentuk yang di satu sisi mengingatkan torii (portal) dari kuil Shinto sedangkan di sisi lain menyerupai sayap kupu-kupu. Pada tahun 1957 Yanagi dianugerahi medali emas di Milan tiga tahunan berkat desain-desainnya yang cerdas.
Butterfly stool ini sesuai dengan namanya memang terasa melayang bagaikan kupu-kupu. Memang sepintas melihatnya terasa meragukan apakah aman untuk diduduki. Tetapi di situlah letak kejeniusan Sori Yanagi. Ia berhasil mengaburkan antara konstruksi sebuah kursi menjadi sebuah elemen estetis yang konstruktif. Sori Yanagi berhasil membuat Butterfly stool ini menjadi suatu komposisi bentuk yang terasa sangat Jepang sekaligus sangat universal. Garis lengkungnya mengingatkan akan gaya arsitektur Jepang. Siluetnya mengingatkan akan huruf kanji. Tetapi kesederhanaan bentuknya justru menguatkan sisi universalnya. Karakteristik Butterfly Stool ini mengadaptasi dari siluet lembut yang melengkung dari bentuk sayap kupu-kupu. Jika dilihat sepintas juga mirip salah satu huruf kanji.



Butterfly stool dibuat dari kayu lapis yang diproses dengan proses bending untuk membuat bentuk lengkung yang dinamis. Material/bahan yang digunakan adalah plywood (kayu lapis) yang dibentuk melengkung seperti siluet kupu-kupu dengan proses bending. Proses bending merupakan proses penekukan atau pembengkokan menggunakan alat bending manual maupun menggunakan mesin bending. Finishing yang dilakukan antara lain dengan Lacquer plywood yaitu menggunakan pencair air murni dan resin yang tertinggal dipermukaan kayu. Selain itu bisa juga menggunakan finishing veneer.

Tidak hanya untuk duduk, Butterfly Stool dapat beralih fungsi menjadi meja. Dapat diletakkan di ruang tamu, ruang kerja, ruang keluarga/ruang santai.
Elephant Stool

Elephant Stool mempunyai karakteristik bentuk menyerupai tubuh dan kaki gajah. Material/bahan yang digunakan adalah Polypropylene (polimer termo-plastik) dengan proses celup sehingga ringan jika dibawa kemana-mana. Selain untuk duduk, Elephant Stool juga dapat digunakan untuk menaruh sesuatu diatasnya, seperti vas bunga atau pajangan. Selain untuk indoor, Elephant Stool banyak diletakkan di outdoor seperti kebun, balkon dan tak jarang digunakan sebagai bangku untuk piknik.

Sumber
http://mndalicious.blogspot.co.id/2015/11/furniture-unik-karya-desainer-jepang.html
http://igloodesigndecor.blogspot.co.id/2007/08/sori-yanagi-dan-bangku-kupu-kupunya.html
http://www.design-museum.de/en/collection/100-masterpieces/detailseiten/butterfly-yanagi.html
https://www.vitra.com/en-pl/corporation/designer/details/sori-yanagi
https://www.vitra.com/en-pl/living/product/details/butterfly-stool
https://www.vitra.com/en-pl/living/product/details/elephant-stool
PROKSEMIKA “HIDDEN DIMENSION” EDWARD T HALL
Discover Omah Library by Jak Lingko

Hari ini saya berencana mengunjungi Omah Library yakni sebuah perpustakaan pribadi milik arsitek Realrich Sjarief yang berfokus pada literatur arsitektur. Omah Library berlokasi di Jalan Taman Amarilis 2 F2/15, Taman Villa Meruya, Meruya Utara, Jakarta Barat. Perpustakaan ini berada di dalam perumahan, sehingga pemilik membatasi kunjungan para pengunjung yakni hanya untuk teman-temannya, teman baru, dan orang-orang baru yang tertarik untuk belajar arsitektur. Setiap orang yang berencana berkunjung, diharapkan untuk menghubungi pihak Omah Library via WhatsApp atau telepon sehari sebelum kunjungan. Omah Library hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Sehari sebelumnya saya sudah mengontak Omah Library via Whatsapp dalam rangka mengambil buku yang akan dibahas di acara diskusi Kri(s)tik Book Club tanggal 21 September 2019 nanti. Buku yang saya pinjam berjudul Wabi-Sabi for Artists, Designers, Poets, & Philosophers. Hal – hal menarik mengenai buku ini akan saya bahas pada tulisan saya selanjutnya.

Ini merupakan kunjungan pertama saya ke Omah Library, sehingga saya mencari moda transportasi umum yang murah dan nyaman untuk sampai ke tempat sejauh itu. Saya pun berangkat dari Duri Pulo Jakarta Pusat menuju Omah Library dengan menggunakan angkot Jak Lingko. Apa itu angkot Jak Lingko? Baiklah, pertama-tama mari saya jelaskan tentang Jak Lingko. Jak Lingko adalah tranformasi dari OK – Otrip yang terintegrasi dengan Transjakarta, MRT, LRT, dan lain – lain. Salah satu moda transportasi umum yang berhasil dirangkul oleh Jak Lingko adalah angkot. Angkot yang biasa kita kenal kumuh, ngetem lama, dan ugal – ugalan kini tampak berbeda ketika terintegrasi dengan Jak Lingko. Angkot yang bekerja sama dengan Jak Lingko diseleksi sedemikian rupa, sehingga di dalam angkot pun diberlakukan peraturan yang sama seperti Transjakarta misalnya tidak boleh merokok dan ada bangku prioritas.

Saya naik angkot JAK30 jurusan Grogol – Meruya di bus stop seberang Pemadam Kebakaran Tanjung Duren. Sehari sebelumnya saya sudah membeli kartu Jak Lingko di halte busway Grogol 2 seharga 30 ribu rupiah yang sudah terisi saldo 10 ribu rupiah. FYI, kartu Jak Lingko bisa dibeli dan di-top-up di halte Transjakarta mana pun. Kartu ini bisa dipakai tap untuk naik busway, MRT, & LRT sehingga satu kartu saja bisa digunakan untuk beberapa moda transportasi umum yang bekerja sama dengan Jak Lingko. Setelah naik, sopir akan meminta kartu Jak Lingko kita untuk di tap ke mesin tap. Tarif angkot Jak Lingko yakni seharga 5 ribu rupiah per 3 jam.

Selama perjalanan hanya ada 5 orang penumpang dan angkot sama sekali tidak ngetem ataupun ugal – ugalan, sehingga sangat nyaman untuk perjalanan jauh. Di tengah perjalanan saya sempat berbincang dengan sopir angkot Jak Lingko yang saya tumpangi. Setiap sopir diwajibkan untuk mencatat tiap kilometer yang mereka dapat selama mengemudikan angkotnya. Data kilometer diambil dari layar spedometer angkot tersebut kemudian dicatat ke dalam buku catatan sebagai bukti perjalanan hari itu. Setiap hari para sopir harus memenuhi target kilometer yang ditentukan dalam kebijakan baru angkot yang terintegrasi Jak Lingko. Jadi, walaupun hanya ada satu penumpang, angkot pun tetap melaju untuk memenuhi target kilometer tersebut tanpa harus ngetem atau menunggu angkot dipenuhi penumpang dulu.
Apakah sopir tidak rugi jika hanya mengantar satu orang penumpang? Tentu saja tidak, karena sopir yang mengemudikan angkot Jak Lingko telah digaji per bulan sehingga mereka tidak lagi terbebani dengan kejar setoran dan ugal – ugalan untuk mencari penumpang. Namun sopir angkot Jak Lingko yang saya tumpangi sempat mengeluh karena tadi ketika di wilayah Grogol beliau salah jalan dan ini bisa mengakibatkan peringatan karena mempengaruhi kilometer yang beliau dapat. Beliau juga mengatakan bahwa terdapat banyak pasal – pasal dalam kebijakan angkot Jak Lingko yang jika dilanggar bisa mengurangi gaji. Beliau juga menambahkan bahwa gaji yang mereka dapat hanya sekitar 130 ribu rupiah per hari, dan jika tidak masuk kerja ya tidak digaji. Namun kepastian pendapatan dan sistem shift yang diterapkan Jak Lingko sangat disenangi para sopir karena lebih efektif dalam pembagian jam kerja dan istirahat. Sedangkan biaya BBM dan service angkot ditanggung pihak sana, jadi sopir tidak perlu pusing – pusing lagi membagi uang setoran dengan biaya – biaya itu.
Untuk angkot Jak Lingko jurusan Grogol – Meruya ini sanggup melakukan 3 kali perjalanan dengan total 6 sampai 6,5 kali pulang pergi setiap shiftnya. Empat puluh menit kemudian angkot yang saya tumpangi tiba di bus stop dekat Omah Library yakni di depan Kelurahan Meruya Selatan. Kemudian, saya melanjutkan perjalanan dengan memesan Go-Ride nya Gojek menuju Omah Library. Begitulah perjalanan saya ke barat hari ini mencari kitab suci. Semoga bermanfaat.
(08092019)
Journey to IKEA Alam Sutera — Pip Arts

IKEA adalah gerai perabot rumah tangga terlengkap yang berasal dari salah satu negara Skandinavia Eropa Utara yaitu Swedia. IKEA menyediakan berbagai macam furniture yang bisa di mix and match sesuai kebutuhan desain interior ruangan Anda seperti wardrobe, dipan, sofa, kursi, coffee table, rak hingga kitchen set. Desain furniture IKEA mostly bergaya Scandinavian yang cenderung minimalis […]
Journey to IKEA Alam Sutera — Pip Arts
Journey to IKEA Alam Sutera

Interior Aromatherapy Candle Area


